Saturday, March 6, 2010

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Akhlakul Karimah dalam kehidupan modern Saat ini kita berada di tengah zaman globalisasi, revolusi iptek tidak hanya mampu menghadirkan sejumlah kemudahan dan kenyamanan hidup bagi manusia modern, melainkan juga mengundang serentetan permasalahan dan kekhawatiran, di balik semua itu, sangat potensial untuk mengubah cara hidup seseorang, bahkan dengan mudah dapat merambah ke bilik-bilik keluarga yang semula sarat dengan norma susila.
Usia bangsa Indonesia hampir mencapai 62 tahun, namun sejauh ini segala bentuk sistem demi memberdayakan anak bangsa yang telah dicoba oleh para pemimpin bangsa belum mencapai hasil yang maksimal atau dapat dikatakan gagal. Alih-alih memperbaiki kondisi bangsa, justru yang terjadi krisis demi krisis silih berganti dan kondisi bangsa semakin terpuruk.
KH Said Aqil Siroj, Ketua PBNU dalam sebuah wawancara mengatakan bahwa : “Kalau krisis di bidang ekonomi, hukum dan politik itu bisa diatasi, tetapi kalau krisis budaya dan moral, kita sendiri yang harus melakukan recovery, tidak bisa imam masjidil haram atau syaikhul azhar misalnya”.
Lebih lanjut menurut Said Aqil Siroj : “Para ulama dahulu mencipatakan bangunan sosial atas dasar saling gotong royong, yang muda percaya yang tua, yang tua percaya yang muda, yang miskin percaya pada yang kaya, yang kaya santun pada yang miskin, yang pandai mengayomi yang bodo, yang bodo percaya pada yang pinter, sekarang lepas semua.
Yang bodo curiga sama yang pinter, karena takut dipinterin, yang miskin melihat yang kaya pasti curiga dari mana kekayaannya, yang muda tidak percaya lagi sama yang tua karena yang tua tidak mampu dijadikan contoh”
Irsyad Sudiro, penggagas Gerakan Masyarakat Peduli Akhlak Mulia (GMP-AM) di tingkat Nasional sepertinya sependapat dengan Said Aqil Siroj, bahwa menurutnya telah terjadi penyimpangan perilaku di tengah masyarakat kita.
__________________
1 Eddy Prasetyo Dimuat di Harian Batampos,11 Mei 2007
Perilaku yang mengesampingkan rasa malu untuk melakukan hal-hal yang bukan dalam kepantasan, dengan pemahaman bahwa telah terjadi dekadensi moral dan akhlak, sehingga memicu keterpurukan kondisi bangsa di semua sektor.
Tidak kurang Aida Zulaikha Ismeth Anggota DPD dari Propinsi Kepulauan Riau merasa berkepentingan untuk mengawal pencanangan GMP-AM di tingkat regional Propinsi Kepulauan Riau beberapa waktu yang lalu, atas dasar keprihatinan terhadap maraknya perdagangan wanita dan berbagai penyimpangan perilaku di wilayah tersebut.
Akhlak menjadi sesuatu yang sangat penting dan berharga bagi kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara, sudah barang tentu Akhlak yang mulia (Akhlaqul Karimah) bukan yang sebaliknya, mengingat dengan akhlak mulia akan membentuk watak bangsa yang berkarakter dan memiliki jati diri.

Presiden Soekarno ketika itu, dalam setiap kesempatan senantiasa mengingatkan tentang arti pentingnya nation and character building (pembangunan bangsa dan karakter), mengingat dengan memiliki karakter, suatu bangsa akan dihargai dan diperhitungkan oleh bangsa manapun didunia ini.














BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian Akhlak Al-Karimah
Akhlak secara etismologi bermakna adapt kebiasaan, perangai, tabiat, watak, adab/sopan-santun, dan agama. Kata akhlak mengandung persesuaian dengan perkataan khalaq yang berarti kejadian erat, dan erat hubungannya dengan kata khaliq yang berarti pencipta, serta erat kaitannya dengan kata makhluq bermakna yang diciptakan.
Akhlak Secara terminologis, berarti kemauan yang kuat tentang sesuatu yang dilakukan secara berulang-ulang, sehingga menjadi adat (membudaya) yang mengarah kepada kebaikan atau keburukan,
Artinya: “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya.” (Qs: Al-Zalzalah ayat 7) dan Artinya: “Dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula.” (Qs: Al-Zalzalah ayat 8)

Akhlak dapat juga berarti tingkah laku yang telah melekat pada diri seseorang karena hal itu telah dilakukan terus-menerus, sehingga ia berbuat secara sopan-santun dan ramah tamah, sesuai yang di ajarkan Nabi Muhammad SAW. Artinya: “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu[246]. kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. .” (Qs: Ali-Imran ayat 159). [246] Maksudnya: urusan peperangan dan hal-hal duniawiyah lainnya, seperti urusan politik, ekonomi, kemasyarakatan dan lain-lainnya”.

Kesimpulan ayat di atas dimaksudkan bahwa bersikaplah lemah-lembut terhadap sesame manusia walaupun dia lebih tua ataupun lebih muda daripada Kita,dan janganlah bersikap kasar dan berhati keras sesuai keinginan Kita,meminta maaflah jika banyak berbuat salah dan juga bermusyawarahlah untuk mencari jalan keluar menyelesaikan masalah yang sulit Kita selesaikan, sesungguhnya Allah SWT menyukai orang-orang yang bertawakal dan berserah diri kepada Allah SWT.

Menurut ulama Ibnu Miskawaih menyatakan bahwa pengertian akhlak sebagai berikut : “Keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melalui pertimbangan lebih dahulu.
Selanjutnya, beliau menambahkan kalau perbuatannya itu sesuai dengan adat dan ajaran Islam, maka dinamakan akhlaq yang baik. Sebaliknya, bila bertentangan dengan adat dan ajaran Islam dinamakan akhlaq yang buruk.Akhlak dapat dibentuk dan diusahakan, sehingga mengarah kepada yang baik,begitu pula sebaliknya.
Dari sinilah Kita dapat simpulkan bahwa membentuk akhlaq yang baik itu sebenarnya mudah, hanya Kita saja yang sulit untuk menerapkannya pada zaman yang modern saat ini,karena terlalu banyaknya budaya yang masuk ke dalam Negara Indonesia ini.



















____________________________________
Ibnu Miskawaih, Tahdzid al-Akhlaq wa tathahir al-A’raq,diterbit oleh Hasan Tamin,(Beirut: Mansyurat Dar al-Maktabah al-Hayat,1398 H), Cet. II, hal 51.
1. Akhlak Al-Mahmudah

Akhlak adalah kebiasaan yang dilakukan sehari-hari dalam tingkah laku atau perbuatan baik secara al-mahmudah yaitu akhlaq yang terpuji. Pokok keutamaan akhlaq ini ada empat, yaitu: al-hikmah (kebijaksanaan), al-syaja’ah (keberanian), al-‘iffah (menjaga kesucian), dan al-‘adalah (keadilan).

a) Kebijaksanaan
Kebijaksanaan, adalah keutamaan al-nathiqah (jiwa rasional) yang mengetahui secara maujud, baik hal-hal yang bersifat umur al-insaniyyah (kemanusiaan). Kebijaksanaan akan dapat membuahkan pengetahuan rasional, yang mampu member keputusan antara yang wajib dilaksanakan dengan yang wajib ditinggalkan.3 Kebijaksanaan juga merupakan pertengahan antara kelancangan dan kedunguan. Yang dimaksud dengan kelancangan disini adalah penggunaan daya pikir yang tidak tepat. Adapun yang dimaksud dengan kedunguan ialah membekukan dan mengesampingkan daya pikir tersebut, walau sebetulnya memiliki kemampuan.

Secara sederhana, maksud kebijaksanaan di sini adalah kemampuan dan kemauan seseorang dalam menggunakan daya pikirnya secara benar untuk memperoleh pengetahuan apa saja, sehingga mendapatkan pengetahuan yang rasional. Pengetahuan rasional tersebut kemudian diaplikasikan dalam wujud perbuatan berupa keputusan untuk wajib melaksanakan atau meninggalkan sesuatu.

b) Keberanian
Keberanian, merupakan keutaman jiwa yang muncul pada diri manusiaselagi nafsunya dibimbing oleh jiwa al-nathiqah, Artinya, ia tidak takut terhadap hal-hal yang besar jika pelaksanaannya membawa kebajikan, dan mempertahankannya merupakan hal yang terpuji.
Ibn Miskawih berpendapat bahwa seorang pemberani sekurang-kurangnya mempunyai enam ciri berikut:
a. Dalam soal kebaikan, ia memandang ringan terhadap sesuatu yang hakekatnya berat.
b. Ia sabar terhadap persoalan yang menakutkan.
c. Memandang ringan terhadap sesuatu yang umumnya dianggap berat oleh orang lain, sehingga ia rela mati memilih persoalan yang paling utama.
d. Tidak bersedih terhadap sesuatu yang tidak bias dicapainya.
e. Tidak gundah apabila ia menerima berbagai cobaan.
f. Kalau ia marah dan mengadakan pembalasan, maka kemarahan dan pembalasannya dilakukan sesuai ukuran, obyek dan waktu yang diwajibkan.

c) Menjaga Kesucian Diri
Pokok keutamaan akhlaq yang ketiga adalah al- ‘iffah (menjaga kesucian diri). Al-‘iffah merupakan keutamaan jiwa al-syahwaniyyah / al- bahimiyyah, yang muncul apabila diri manusia nafsunya dikendalikan oleh pikirannya, Artinya ia mampu menyesuaikan pilihan yang benar sehingga bebas tidak dikuasai dan diperbudak nafsu tersebut.Jadi sebagai umat muslim harusnya menjaga kesucian diri terhadap sesama sangat dibutuhkan untuk mencagah hal-hal yang mengacu ke perzinaan, Artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.(QS; Al-Israa ayat 32).

d) Keadilan
Keadilan atau al-‘adalah merupakan gabungan dari ketiga keutamaan diatas. Dikatan demikian, karena seseorang tidak dapat disebut kesatria apabila ia tidak adil.Demikian pula orang tidak disebut pemberani apabila ia tidak mengetahui keadilan, dan tidak dapat disebut adil jika tidak mampu mengendalikan diri. Oleh karena itu, seorang manusia yang bertindak adil seharusnya mampu mengetahui cara mengharmoniskan al-hikmah, al-saja’ah, dan al-‘iffah.
Dan janganlah kamu harus dapat berbuat adil kepada sesama untuk dapat mencari jalan keluar jika terjadinya permasalahan yang sulit di pecahkan,walaupun itu berat maka bermusyawarahlah kamu dan juga bertindak adil sesuai dengan Al-Qur’an dan al-Sunnah;
Artinya: “Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya[852] karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal..”
[852] Maksudnya: jangan kamu terlalu kikir, dan jangan pula terlalu Pemurah. (QS; Al-Israa ayat 29).


Artinya: “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.”(QS; Al-Furqan ayt 67).

“Beramallah untuk kepentingan duniamu seakan-akan kamu akan hidup selama-lamanya, dan beramallah untuk kepentingan akhirmu seolah-olah kamu akan mati esok hari”(al-Hadist).
Dari ketiga ayat-ayat al-Qur’an dan al-Sunnah diatas dapat disimpulkan bahwa janganlah kamu berputus ada dalam menghadapi sesuatu bahwasanya sesungguhnya dapat dikerjakan asalkan ada kemauan dan janganlah bersifat berlebihan dan kikir dalam menggunakan sesuatu benda,gunakanlah sesuai dengan kebutuhan,serta banyak-banyaklah kamu beramal yang saleh,seolah-olah kamu akan mati esok hari.

Seorang mukmin yang berakhlak mulia diumpamakan Allah sebagai sebuah pohon yang banyak membawa manfaat bagi kehidupan. Sebuah ungkapan dengan perumpamaan yang sangat indah Allah sampaikan dalam sebuah firman-Nya;
Artinya: “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik[786] seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,
Pohon itu memberikan buahnya pada Setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.”
[786] Termasuk dalam kalimat yang baik ialah kalimat tauhid, segala Ucapan yang menyeru kepada kebajikan dan mencegah dari kemungkaran serta perbuatan yang baik. kalimat tauhid seperti laa ilaa ha illallaah. (QS. Ibrahim : 24-25)

Berkaitan erat dengan hal tersebut di atas Rasulullah saw juga menyampaikan ungkapan yang indah pula. Beliau saw mengumpamakannya bagaikan satu tubuh, jika satu organ saja mengalami rasa sakit maka yang lainpun merasakan itu. Berikut petikan sabda Rasulullah saw.
Dari Nukman bin Basyir r.a. ia mengatakan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda;
"Perumpaan orang mukmin dalam hal cinta-mencintai, kasih sayang dan kelemah lembutan adalah bagaikan sebuah tubuh yang bila salah satu organnya menderita, semua organ yang lain akan merasakan kesakitan dan panasnya." (H.R. Bukhari dan Muslim). “
Jika kita selalu beramal baik dan mendekatkan diri kepada Allah, maka Allah akan "menyatu" dalam diri kita.

2. Akhlaq al- Mazhmumah
Akhlaq yang buruk dikenal dengan sebutan akhlaq al-mazhmumah atau akhlaq al-sayyi’ah. Ada hal menjadi biang utama, yang menjadi pangkal keburukan akhlaq yaitu ada tiga, yakni: amarah, takut mati, dan kesedihan.

A. Amarah
Amarah atau yang biasa disebut marah adalah merupakan gejolak jiwa yang mengakibatkan darah dalam hati menjadi mendidih. Jika gejolak ini sangat keras, maka ia berkobat menjadi api kemarahan. Kalau mendidihnya darah dalam hati semakin dahsyat lagi, seluruh urat syaraf dan otak terselimuti sehingga menjadi gelap-gulita dan tidak ada tempat untuk berfikir.
Dengan demikian, amarah termasuk penyakit jiwa yang paling serius adalah marah yang menyebabkan munculnya banyak sifat buruk dan perbuatan jahat yang tidak bisa kita kendalikan seperti, sombong yang dapat membohongi diri sendiri,mau menang sendiri, menindas seseorang, berkhianat,dan mencari ketenaran dengan cara bersain yang tidak sehat.
Dalam firman Allah SWT disebutkan tentang menindas orang lain serta kesombongan;

Artinya: ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri[1409] dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman[1410] dan Barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.
[1409] Jangan mencela dirimu sendiri Maksudnya ialah mencela antara sesama mukmin karana orang-orang mukmin seperti satu tubuh.
[1410] Panggilan yang buruk ialah gelar yang tidak disukai oleh orang yang digelari, seperti panggilan kepada orang yang sudah beriman, dengan panggilan seperti: Hai fasik, Hai kafir dan sebagainya.(QS;Al-Hujurat ayat 11).”

Dan di Surat yang lain di sebutkan;
Artinya: “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.(QS:Al-Israa ayat 37)”

รณ
Artinya: “Tidakkah kamu memperhatikan bahwa Sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan nikmat Allah, supaya diperlihatkan-Nya kepadamu sebahagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur. (QS; Al-Luqman ayat 31).”Ÿ

Ujung dari sifat amarah ini ialah hanya balas dendam,dan hanya dapat terpuaskan oleh dendam yang terbalaskan,jadi sebelum dendam ini terbalaskan belumlah puas seseorang untuk membalas semua perbuatan yang telah dilakukan oleh orang tersebut kepada dirinya



B. Takut mati
Perasaan takut muncul akibat merasa akan terjadi sesuatu yang buruk atau bahaya yang akan menimpanya. Sesuatu yang akan terjadi tersebut mungkin serius, mingkin sepele, bisa pasti terjadi, kemungkinan, semestinya sebagai orang yang berakal tidak perlu menggunakan perasaan untuk menghayati sesuatu yang sifatnya masih mungkin tersebut.

C. Kesedihan
Sedih bisa terjadi karena berpisah dengan sesuatu yang dicintai, atau karena gagal mencapai sesuatu yang akan diraihnya. Adapun penyebab lainnya ialah adanya keinginan yang kuat untuk memperoleh harta, rakus akan keinginan-keinginan sendiri, dan mengeluh karena berpisah dengannya, atau gagal untuk mendapatkan semuanya itu. Kesedihan akan muncul karena semua itu disangka akan kekal dan dapat membuat dirinya tenang, Padahal sebaliknya akan rusak dan menjadikan dia tidak tenang.

“Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.(QS: Yunus ayat 100)”

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.(QS:Al-Balad ayat 4).”
Maka janganlah kita berputus asa dalam menghadapi musibah ataupun cobaan,teruslah berusaha agar mencapai yang kita inginkan walaupun dengan kesabaran dan ketekunan kita.










2. Membentuk Akhlakul Karimah terhadap Moral Anak Bangsa
Dizaman sekarang ini akhlaq Karimah itu susah untuk dilakukan karena pergaulan sekarang cenderung bersifat kasar atau brutal. Maka dari itu pembentukan akhlaq itu perlu dari mulai sejak kecil untuk di didik ketika sudah dewasa akan bisa mampus bertutur kata yang sopan dan sikap yang lemah lembut.
Allah Berfiman:
”Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu[246]. kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.
[246] Maksudnya: urusan peperangan dan hal-hal duniawiyah lainnya, seperti urusan politik, ekonomi, kemasyarakatan dan lain-lainnya.(QS;Ali-Imran ayat 159).

Artinya: “Samiri menjawab: "Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya, Maka aku ambil segenggam dari jejak rasul[940] lalu aku melemparkannya, dan Demikianlah nafsuku membujukku".
[940] Yang dimaksud dengan jejak Rasul di sini ialah ajaran-ajarannya. menurut faham ini Samiri mengambil sebahagian dari ajaran-ajaran Musa kemudian dilemparkannya ajaran-ajaran itu sehingga Dia menjadi sesat. menurut sebahagian ahli tafsir yang dimaksud dengan jejak Rasul ialah jejak telapak kuda Jibril a.s. artinya Samiri mengambil segumpal tanah dari jejak itu lalu dilemparkannya ke dalam logam yang sedang dihancurkan sehingga logam itu berbentuk anak sapi yang mengeluarkan suara.(QS;At-Taha ayat 96)”

Orangtua sekarang kebanyakan sibuk dengan urusan pekerjaannya jadinya anak dirumahnya hanya ditinggalkan dengan orang yang membantu,jadi kelakuan yang dia dapat hanya mengikuti lingkungan sekitar tanpa didikan orangtuanya sendiri,jadi baik buruknya seorang anak tersebut tergantung oleh lingkungannya sekitar.
3. Dampak Positif dan Negatif dari Akhlakul Karimah Terhadap Moral Anak Bangsa
Dampak positif akhlakul karimah terhadap moral anak bangsa ialah:
1. Dapat mengetahui bagaimana sifat yang ia miliki sekarang
2. Dapat menjaga kesucian diri dari perbuatan yang buruk
3. Dapat mencegah terjadinya Kesombongan pada diri dia
4. Dampak negatif akhlakul karimah terhadap moral anak bangsa ialah:
5. Dapat tau bahwa ia sombong
6. Sifatnya bisa takabur,kikir
7. Tidak beriman sesuai firman Allah SWT;
”Katakanlah: "Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi." Katakanlah: "Kepunyaan Allah." Dia telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang[462]. Dia sungguh akan menghimpun kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya. orang-orang yang meragukan dirinya mereka itu tidak beriman[463].
[462] Maksudnya: Allah telah berjanji sebagai kemurahan-Nya akan melimpahkan rahmat kepada mahluk-Nya.
[463] Maksudnya: orang-orang yang tidak menggunakan akal-fikirannya, tidak mau beriman.(QS;Al-An’am ayat 12).”

4. Perbaikan akhlak melalui pendekatan pesantren
Kedudukan Akhlak di Pesantren

Teori pendidikan menyatakan bahwa sistem pendidikan harus mempertimbangkan tiga faktor, yaitu afektif, psikomotorik dan kognitif. Katiganya harus berjalan secara bersamaan dan selaras, mengingat apabila hanya menekankan pada salah satu faktornya saja, akan berakibat pada kepincangan pendidikan itu sendiri. Kerusakan moral yang terjadi saat ini disinyalir akibat dari sistem pendidikan yang kurang memperhatikan ketiga faktor tersebut.

Kondisi yang semestinya mempertimbangkan untuk memandang pendidikan secara utuh, tidak saja pengembangan keilmuan, melainkan juga perkembangan kepribadian dan akhlak.

Pesantren atau Pondok Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua yang pernah ada dan merupakan media pengembangan agama Islam yang paling utama di negeri ini, hingga kini bahkan pesantren menjadi alternatif bagi menempuh pendidikan berbasis agama Islam.

Dalam sebuah lileratur disebutkan istilah pesantren secara etimologis berasal dari kata pe santri an tempatnya para santri, ada juga yang menyebutkan asal katanya sant (manusia baik) dengan tran (suka menolong), sehingga pesantren dapat diartikan sebagai tempat pendidikan manusia untuk mendapatkan kebaikan baik bagi dirinya maupun bagi orang lain dengan semangat gotong royong.

Sedangkan istilah pondok, terdapat analisa yang menyatakan berasal dari kata funduq (tempat menginap atau pesanggrahan bagi orang yang sedang bepergian atau mengembara).

Di lingkungan pesantren, kedudukan akhlak merupakan hal yang sangat penting dan utama bagi kehidupan. Terdapat pandangan bahwa segala amal perbuatan, baik yang berkaitan dengan persoalan hati maupun badan, ucapan atau perbuatan tidak dianggap sah apabila tanpa kebaikan akhlak.

Sebagian ulama bahkan menyatakan bahwa akhlak berkaitan erat dengan tauhid. Tauhid adalah dasar dari segala sesuatu, maka lahirlah apa yang dinamakan keimanan, dari keimanan timbul syariat, dari syariat muncullah akhlak. Artinya, jika seseorang tidak memiliki akhlak, berarti tidak memiliki syariat, jika tidak memiliki syariat berarti tidak memiliki keimanan dan itu juga berarti tidak memiliki tauhid. (Tamyiz Burhanudin, 2001)

Keutamaan akhlak di lingkungan pesantren ditunjukkan oleh Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari tokoh pendiri Pondok Pesantren Tebuireng dengan karyanya berupa Kitab Adab Al-Alim Wa Al-Muta’allim (sopan santun atau akhlak antara pendidik dan yang dididik), yang disusun pada tahun 1343 H / 1923 M.
Bagi para santri ketika menuntut ilmu di pesantren, sudah sejak awal diberikan pemahaman betapa pendidikan merupakan hal yang sangat penting bagi sebuah kehidupan, sesuai dengan firman Allah SWT :

”Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Mujadalah, 11)

Selanjutnya Kitab Adab Al-Alim Wa Al-Muta’allim juga memaparkan tentang keagungan ilmu dan ulama, mengingat sosok ulama dipandang sebagai pewaris para nabi,sebagaimana,firman,AllahSWT:

”Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadanya. yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.(QS.Al-Bayyinah,8-8).”

”Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama[1258]. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.
[1258] Yang dimaksud dengan ulama dalam ayat ini ialah orang-orang yang mengetahui kebesaran dan kekuasaan Allah. (QS. Al-Fatir, 28).”

Secara garis besar pola pendidikan di lingkungan pesantren sangat menitik beratkan pada pendidikan akhlak seorang santri atau murid, akhlak ustadz atau ulama guru, akhlak hubungan santri dengan ustadz dan sebaliknya, akhlak santri terhadap pelajaran, akhlak santri terhadap kitab yang dipelajari serta akhlak-akhlak lainnya yang berkaitan erat dengan pandangan hidup seorangmuslim.

Pendidikan menurut Kitab Adab Al-Alim Wa Al-Muta’allim bukanlah transfer pengetahun, melainkan ia harus mampu membentuk akhlak yang sempurna. Pendidikan yang hanya menekankan aspek pemikiran dan melupakan aspek ilahiyah dianggap sebagai pendidikan yang tidak bisa melanjutkan idealitas pendidikan. Terdapat tiga hal yang ingin dicapai, yakni dimensi keilmuan, pengamalan dan religius. (Tamyiz Burhanudin, 2001)

Pesantren yang selama ini dianggap mempergunakan pola-pola tradisional, walaupun saat ini banyak pesantren yang telah melakukan perubahan mengikuti perkembangan yang terjadi, dapat menjadikan alternatif bagi upaya kearah perbaikan dan pendidikan
akhlak. Karena dengan akhlak yang baik merupakan modal dasar bagi pembentukan karakter manusia.

Seorang bijak mengatakan : "When wealth is lost, nothing is lost. When health is lost, something is lost. When character is lost, everything is lost." (Bila harta kekayaan yang hilang, belum berarti kehilangan sesuatu. Bila kesehatan yang hilang, barulah ada sesuatunya yang hilang. Bila karakter yang hilang, berarti hilanglah segalanya)

ERA informasi dan globalisasi sebagai akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini telah memberikan dampak pada hampir semua aspek kehidupan masyarakat. Perubahan masyarakat akibat berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut membawa dampak yang besar pada budaya, nilai, dan agama. Nilai-nilai yang sementara ini dipegang kuat oleh masyarakat mulai bergeser dan ditinggalkan. Sementara nilai-nilai yang menggantikannya tidak selalu sejalan dengan landasan kepercayaan atau keyakinan masyarakat, sehingga penyimpangan kian subur dan berkembang.
Dalam situasi seperti ini, remaja dan mahasiswa yang sedang berada dalam kondisi psikologis yang labil menjadi korban pertama, sebagaimana terjadi dalam berbagai kasus hedoisme, konsumerisme, hingga peningkatan kenakalan remaja dan narkotika.
Hal ini semakin membuktikan bahwa nilai-nilai hidup tengah bergeser sehingga membingungkan para remaja, menjauhkan mereka dari sikap manusia yang berkerpibadian, khususnya para pelajar dan mahasiswa yang sedang mengalami proses kegalauan yang parah dalam mencari jati diri.
Pendidikan agama yang selama ini menjadi tameng utama bagai generasi muda mulai dirasakan kurang berpengaruh dan lebih tepatnya kurang diminati, mengingat orang tua tenggelam dalam kesibukannya masing-masing, sedangkan lingkungan dan pergaulan yang tidak steril dari perilaku yang menyimpang dari norma-norma sosial dan agama.
Sementara sekolah dan perguruan tinggi, padat dengan pencapaian tujuan kurikulum yang menonjolkan aspek komunikatif. Output pendidikan lebih banyak menghasilkan pengetahuan, tetapi tidak mampu menghadapi tantangan hidup dan kehidupan (survive).
Standar moral dan spiritual anak nyaris tanpa sentuhan, sehingga nilai dan norma yang tertanam pada diri anak hanya sesuatu yang absurd. Maka pendidikan agama sebagai pembinaan nilai dan moral dituntut untuk dapat menangulangi dan mengantisipasinya sehingga masa depan mereka khususnya dan bagi bangsa pada umumnya dapat diselamatkan. Maka penting sekali pembelajaran dengan mengintegrasikan nilai-nilai imtaq dan iptek dalam rangka untuk mengantisipasi/ meminimalisasi semakin terpuruknya akhlak anak bangsa.
Apabila proses pembelajaran semacam ini berhasil direalisasikan, muncul keoptimisan bahwa di samping agar peserta didik memiliki dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), niscaya proses pendidikan juga dapat mendasari bagi terbentuknya akhlak atau perilaku generasi muda kita secara seimbang, sehingga pada gilirannya nanti dapat membentuk manusia Indonesia yang utuh dengan dilandasi iman dan taqwa (imtaq).

Dengan kata lain proses pendidikan tersebut dapat menciptakan generasi muda harapan bangsa yang berilmu amaliyah, beramal ilmiyah, dan bertaqwa ilahiyah.
Di samping itu, rendahnya pendidikan masyarakat, sistem pendidikan yang tidak mapan, struktur ekonomi yang keropos, serta jati diri bangsa yang belum terinternalisasikan, juga menjadikan bangsa rentan terhadap nilai-nilai baru yang datang dari luar.
Nilai-nilai barat yang sebagian berseberangan dengan nilai-nilai ketimuran dengan mudah diadopsi, terutama oleh generasi muda. Nilai yang mudah ditiru pada umumnya adalah nilai-nilai yang berisi kesenangan, permainan, dan hedonisme yang sering kali membawa dampak buruk. Sebaliknya, nilai- nilai positif dari barat seperti kecerdasan dan kemajuan Iptek tidak diserap dengan baik. Menghadapi persoalan tersebut, di kalangan ahli pendidikan sepakat untuk membina dan mengembangkan pendidikan nilai, moral, dan norma dengan formulasi pendidikan agama yang sesuai dengan kenyataan yang dihadapi saat ini.
Bangsa Indonesia yang berwatak sosialistik-religius bercita-cita meraih kehidupan yang seimbang, serasi, dan selaras antara kehidupan batiniah dengan kehidupan fisik materiil, di mana nilai keagamaan menjadi dasar atau sumber motivasinya.
Bila perkembangan iptek tanpa didasari dengan ajaran agama atau tanpa dilandasi dengan ketakwaan kita pada Tuhan, jenis-jenis perilaku indisipliner dapat terjadi yang terdiri atas perilaku berkatagori pelanggaran kriminal dan non kriminal. Penyebab terjadinya perilaku itu adalah faktor lingkungan yang merangsang dan secara pribadi sesuai dengan motivasi.
Sedangkan pendidikan agama saat ini dipandang berhasil hanya dengan melaksanakan ritual agama. Sementara aspek ekonomi, sosial, dan budaya tidak begitu diperhatikan, sehingga nilai-nilai agama lepas dari penganutnya atau dengan kata lain pelaksanaan ritual agama oleh seseorang terlepas dari perilaku sosialnya.
Ada beberapa tawaran konsep kurikulum yang dipersiapkan untuk membekali anak didik agar berkualitas dan profesional dalam menghadapi tantangan zaman.
Pertama harus menonjolkan tujuan agama dan akhlaqul karimah, dalam materi atau pelaksanaannya, karena seiring sekali dari penerapan materi pelajaran, tidak dikaitkan dengan nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat sehingga yang ada hanyalah pemenuhan pemahaman yang bersifat pengetahuan saja.
Kedua, kandungan materi pendidikan yang mencakup aspek jasmani, intelektual, spiritual, dengan diimbangi dari ketiga hal tersebut, anak didik diharapkan dapat memiliki karakter yang sesuai dengan nilai-nilai bangsa.
Ketiga, adanya keseimbangan antara ilmu syariat dengan ilmu umum. Selama ini seolah-olah terjadi pengkotak- kotakan antara ilmu yang berhubungan dengan teknologi dan ilmu yang berhubungan dengan agama, sehingga ibarat dua kutub yang saling berlawanan tidak akan pernah bisa bertemu.
Keempat, harus mempertimbangkan perkembangan dan kondisi psikologi anak didik. Dalam era modern seperti sekarang ini, laju perkembangan iptek sangat mempengaruhi karakter kepribadian dan berpikir para remaja, sehingga apabila tidak disesuaikan dengan psikologi anak didik, pasti dapat menghancurkan kepribadiannya itu sendiri.

Jadi akhirnya perkembangan informasi dan teknologi tidak bisa dianggap sebagai batu sandungan terhadap perkembangan moral bangsa. Dengan reformulasi kembali metode atau materi pendidikan, sehingga aktualisasi nilai-nilai agama dalam kehidupan sekarang ini menjadi sangat penting terutama dalam memberikan sumbangan pada masyarakat.
























BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Peranan Islam terhadap pembentukan Akhlak yang baik, serta peranan orang tua untuk mendidik ke hal yang positif dan juga berpedoman pada Al-Qur’an dan Al-Hadist.
”Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.(QS. Ali-Imran ayat 120).”

”Ingatlah, Sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.(QS.Yunus ayat 62).”

















Daftar Pustaka

Al-Quran dan Al-Hadist
Uhamka Press, Ibadah akhlak, Jakarta: Percetakan Adelina,2002

Ibnu Miskawaih, Tahdzid al-Akhlaq wa tathahir al-A’raq,diterbit oleh Hasan Tamin,(Beirut: Mansyurat Dar al-Maktabah al-Hayat,1398 H)

Eddy Prasetyo,Harian Batampos 11 Mei 2007

No comments:

Post a Comment